Islam Radikal dan Terorisme

Selasa, 31 Januari 2017 19:29:06 - Posting by Rudy - Dilihat 1200 kali


Oleh : DR Rudianto Spdi MHi

Tentang radikalisme atas nama agama tidak akan pernah habis diperbincangkan, dan telah menjadi isu skala internasional. Sampai saat ini, berita-berita harian baik media televisi maupun di media cetak, sebagian masih diisi dengan berita terorisme. Belum lagi mengenai konflik-konflik di Timur Tengah yang salah satunya disebabkan oleh pemahaman yang fundamental dan radikal terhadap permasalahan politik, keagamaan dan kehidupan.

Isu yang menerpa islam dan terorisme mulai menjadi sorotan dunia terutama setelah  serangan 11 september 2001 di New York City dan Washington, D.C. 19 pembajak mengambil alih empat pesawat komersial yang sedang terbang menuju San Francisco dan Los Angeles setelah lepas landas dari Boston, Newark, dan Washington, D.C.

Pesawat dengan penerbangan jarak jauh sengaja dipilih untuk dibajak karena mengangkut bahan bakar yang banyak. Pukul 8.46 pagi, lima pembajak menabrakkan American Airlines Penerbangan 11 ke Menara Utara World Trade Center (1 WTC) dan pada pukul 9.03 pagi, lima pembajak lainnya menabrakkan United Airlines Penerbangan 175 ke Menara Selatan (2 WTC).

Tragedi tersebut disinyalir dilakukan oleh kelompok militan Islam, al-Qaeda. Sejak itu islam dan pemeluknya menjadi sorotan dunia. Bahkan tidak sedikit orang yang lantang berkata bahwa islam adalah teroris.

Selain itu, baru-baru ini Presiden terpilih Amerika Donald Trump melarang islam di Amerika, setelah sepekan mengeluarkan perintah eksekutif (executive order) untuk memulangkan pengungsi dan imigran dari tujuh negara mayoritas Muslim, Presiden Amerika Serikat, Donald John Trump, dalam akun Twitter-nya, @realDonaldTrump, mengeluarkan pernyataan soal “pengusiran” tersebut.

Di dalam negeri, pada akhir tahun 2015, Densus 88 mengadakan penangkapan terduga teroris di beberapa daerah, misalkan di Cilacap, Sukoharjo, Mojokerto, dan Bekasi. Sebagian elemen di Indonesia pun secara terang-terangan menolak keberadaan aliran radikal atas nama agama.

Di sisi lain, banyak kelompok radikal atas nama agama yang hendak mengganti Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, dan UUD 1945 dengan khilafah, meskipun NKRI dan UUD 1945 merupakan produk dari ulama-ulama Indonesia yang berjuang melawan dan mengusir penjajah, sampai merumuskan dasar negara dan bentuk negara Indonesia ini.

Historis

Sejatinya, radikalisme atas nama agama ini sudah terjadi sejak masa Nabi Muhammad SAW. Bahkan, beliau pun sudah mengabarkan dalam berbagai haditsnya bahwa gerakan semacam ini akan selalu ada sampai kelak. Salah

satunya hadits yang menceritakan tentang Dzul Khuwaishirah (HR Bukhari 3341, HR Muslim 1773) dan hadits yang menceritakan mengenai ciri-ciri kelompok radikal (HR Bukhari nomor 7123, Juz 6 halaman 20748; Sunan an-Nasai bab Man Syahara Saifahu 12/ 474 nomor 4034; Musnad Ahmad bab Hadits Abi Barzakh al-Aslami 40/ 266 nomor 18947).

Dalam sejarah perkembangan Islam, dikenal kemudian firqah yang bernama Khawarij. Khawarij ini muncul sebagai respon ketidakksepakatan terhadap tindakan tahkim (arbitrase) yang ditempuh Khalifah ‘Ali Ibn Abu Thalib dalam penyelesaian peperangan Shiffin dengan Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Dalam perjalanannya, Khawarij ini dapat ditumpas. Namun, pemikirannya bermetamorfosis dalam berbagai bentuk firqah. Sehingga, sampai sekarang pun masih banyak ditemukan pemikiran yang benar-benar fanatik, tekstual, dan fundamental. Kalangan yang pendapatnya berbeda dengannya maka akan diberikan stempel “kafir”, “bid’ah”, dan “sesat”.

Dalam tataran kenegaraan pun, juga terdapat kelompok radikal yang selalu mengangkat isu khilafah (satu pemerintahan atas nama Islam). Setiap permasalahan negara selalu dibawa ke ranah khilafah. Bahkan, ada kalangan yang menganggap pemerintahan selain khilafah adalah thaghut. Meskipun, bentuk negara ini merupakan perkara yang ijtihadi (diperlukan ijtihad dan tidak mutlak).

Saat ini muncul berbagai macam golongan atas nama islam di Indonesia yang pergerakannya pun cukup signifikan. Dulu, organisasi islam terbesar di Indonesia adalah NU dan Muhammadiyah, namun saat ini rupanya itu hampir hanya sekedar data statistik saja, karena di lapangan banyak organisasi-organisasi islam trans nasional. Bahkan banyak diantaranya yang sudah menguasai kedudukan dan jabatan strategis di Indonesia.

Ada beberapa organisasi di dalamnya tidak mengakui Pancasila, mengganggap pancasila adalah produk sekuler. Hal ini jelas sangat berbeda dengan organisasi islam NU dan Muhammadiyah yang mengakui Pancasila dan UUD 1945, karena Pancasila dan UUD 1945 didalamnya mencakup kebebasan beragama.

Jika berbicara masalah syariat Islam, dalam produk legislasi, beberapa syariat dapat dimasukkan seperti telah ditetapkannya UU Perkawinan, UU Perbankan Syariah, dan Instruksi Presiden (Inpres) tentang Kompilasi Hukum Islam. Hanya saja yang belum diperjuangkan adalah hukum Pidana Islam.

Faham-faham yang tidak mengakui Pancasila, jelas tidak sesuai dengan marwah dari pada NKRI. Hal semacam ini akan berdampak sistemik dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia jika negara sendiri masih minim pengawasan dan memberikan ruang yang cukup kepada faham-faham yang tidak sesuai dengan ruh Pancasila.

Tags : #islam #isu #muslim #nkri #pancasila #terorisme


Berita Kolom Lainnya
Baca Juga
Komentar Berita
Tuliskan Komentar Anda
Kode Keamanan
Tuliskan Komentar anda menggunakan Facebook